"Sa'ad bin Abi Waqqash berkata ' Aku bertanya kepada Rasulullah saw ., "Ya Rasulullah , siapakah orang yang paling berat ujian dan cobaanya ?" Nabi saw.menjawab "Para Nabi kemudian yang meniru (menyerupai) mereka dan yang meniru (menyerupai) mereka . Seorang diuji menurut kadar agamanya . Kalau agamanya tipis (lemah) dia di uji sesuai dengan itu (ringan) dan bila iman nya kokoh dia diuji sesuai itu (keras) . seorang di uji terus-menerus sehingga dia berjalan di muka bumi bersih dari dosa-dosa."(H.R.BUKHARI)
Tidak ada yang tidak berubah dalam hidup ini . Tidak ada sebuah kondisi yang hanya tetap , itu-itu saja . Bumi berputar , alam bergerak , manusia , hewan , dan tumbuhan juga demikian . Perubahan adalah sunnatullah yang pasti akan terjadi . Keadaan seseorang pun demikian adanya . Ada kalanya seseorang berada di puncak kejayaan , ada pula kalanya ia dirundung kemalangan . Peta kejayaan umat juga demikian , silih berganti , pasti bergilir , seperti silih bergantinya roda kehidupan dan layaknya putaran roda .
Perubahan juga telah banya membuat kita semakin mengerti akan hakikat penyerahan . Perubahan yang dapat kita terima biasanya akan membuat kita gembira , misalnya mendapatkan pekerjaan yang mapan , berhasil mendapatkan jodoh yang telah lama kita impikan , atau tiba-tiba karena suatu hal status sosial terangkat . namun , jiak perubahan itu ternyata membuat kita menderita atau merasa tidak nyaman , tidak sedikit diantara kita yang terpuruk dalam ketidakberdayaan .
Ternyata , tidak selamanya perubahan itu indah bagi setiap orang . Tidak ada yang abadi di dunia ini . semua hal yang kita miliki dan rasakan adalah sesuatu yang fana . inilah ujian , ada masanya Allah menguji keimanan kita . Allah berusaha mencari bukti apakah kita termaksud hamba-hamba Nya yang paling shalih ?
ataukah keimanan kita hanya diucapkan hanya di bibir saja tanpa ada bukti ?
"Besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian dan cobaan . sesungguhnya Allah azza wajalla bila menyenangi suatu kaum Allah menguji mereka . Barangsiapa bersabar maka baginya manfaat kesabarannya dan barangsiapa murka maka baginya murka Allah " (H.R. Tirmidzi)
Ujian dan cobaan , bagaimanapun bentuknya , selalu menggoreskan duka . Tangis , keluh-kesah , umpatan , rasa kesal , dan kemarahan , terkadang menjadi hal yang lumrah dilakukan sebagai bentuk penolakan . Bahkan , terkadang sikap menggugat Allah Swt pun terlontar . Ujian dan cobaan memang terasa berat jika kita tidak mengerti esensi & hikmah dibaliknya sehingga tidaklah mengejutkan jika kebanyakan manusia yang sedang menghadapinya mengalami rasa putus asa , depresi , atau stres . Padahal ujian dan cobaan adalah sebuah keniscayaan dalam hidup . Allah swt yang memberi kehidupan telah menetapkan bahwa hidup kita disunia merupakan ujian semata . Hal ini dinyatakan oleh Allah swt . dalam firman Nya berikut :
"yang menjadikan mati dan hidup , supaya Dia menguji kamu , siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya . Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun "(Q.S. Al-Mulk [67]:2)
Ayat tersebut menjelaskan bahwa ujian & cobaan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari hidup kita . Satu ujian yang satu akan disusul dengan ujian yang lainnya . Demikan hal nya dengan cobaan , akan selalu datang silih berganti sesuai dengan tingkah keimanan kita .
Apa yang mesti diperbuat jika ujian & cobaan datang didalam kehidupan kita ? Apakah akan nyaman jika hanya menghadapinya dengan umpatan dan kesah yang tak berujung ? akankah kita putus asa , putus harapan , dan kehilangan semangat hidup karena ujian dan cobaan datang silih berganti ? Bagaimanapun Ujian & cobaan terkadang menggoreskan luka . Namun , banyak alasan yang seharusnya membuat kita sadar untuk tidak terlalu larut dalam duka , apalagi hanya memaki takdir yang menimpa .
Ada hikmah yang seharusnya bisa kita rasakan , hikmah laksana embbun saat kita menyadari bahwa ujian & cobaan tidak akan pernah berhenti sampai kita bertemu Allah pada suatu saat . Namun , tidak banyak yang mengetahui hikmah yang bisa didapat saat ujian & cobaan datang . Tidak semua orang bisa meraba nya , walaupun demikian kita bisa mereguk indahnya hikmah dibalik ujian jika kita berusaha , berusaha untuk menyelami kembali hakikat hidup , berusaha untuk kembali dekat dengan Allah Swt , berusaha untuk bermuhasabah diri segala yang telah kita lakukan dalam hidup .
Bisa jadi Ujian merupakan salah satu tanda kasih sayang Allah kepada kita . Mungkin Allah sangat suka saat kita menangis dalam sujud-sujud panjang dalam Doa dan memohon kepada Nya . Dengan demikian , ujian dan cobaan merupakan sarana untuk mendekatkan diri pada Allah Swt , Namun di sisi lain ujian dan cobaan bisa menjelma sebagai salah satu tanda peringatan seta teguran dari Allah Swt kepada kita . Kemungkinan ada beberapa kesalahan yang pernah kita perbuat , ada sesuatu yang harus di waspadai .
Duka itu perlu diredam , perlu ada cara agar kita dapat meredam duka dan menggali himah disetiap ujian maupun cobaan juga meneladani Rasulullah Saw , para sahabat , dan salafus salih tegar menghadai ujian & cobaan .
Aamiin. .
Sumber Artikel :
penulis : Puspita RM
Rabu, 19 Maret 2014
Sabtu, 15 Maret 2014
HUKUM ZODIAK DALAM ISLAM
Assalamualaikum sahabat blogger, gimana kabar kalian? semoga dalam
keadaan sehat wal'afiat yaaa. Aamiin. Hemmm udah lebih dari seminggu nih
saya gak ngeblog, kangen juga sama kalian :D Hemm hari ini +Pancaryea Heryanisa bakal share "HUKUM ZODIAK DALAM ISLAM", langsung aja cekidot..
Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam bersabda:
“Siapa yang mempelajari ilmu nujum berarti ia telah mempelajari cabang dari ilmu sihir, apabila bertambah ilmunujumnya maka bertambah pulalah ilmu sihirnya.” (HR Ahmad dengan sanad hasan).
Hadits ini dengan jelas dan tegas menyatakan bahwa ilmu nujum (yang termasuk dalam hal ini adalah ramalan bintang) merupakan bagian dari sihir. Bahkan Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam menyatakan bahwa apabila ilmu nujum-nya itu bertambah, maka hal ini berarti bertambah pula ilmu sihir yang dipelajari orang tersebut. Sedangkan hukum sihir itu sendiriadalah haram dan termasuk kekafiran, sebagaimana Allah berfirman yang artinya:
“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan- syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan-lah yang kafir (mengerjakan sihir).” (Qs. Al Baqarah: 102)
Seseorang yang mempercayai ramalan bintang, secara langsungmaupun tidak langsung menyatakan bahwa ada zat selainAllah ta’ala yang mengetahuiperkara gaib. Padahal Allah ta’ala telah menegaskan dalam Al-Qur’an bahwa tidak ada yang mengetahui perkara yang gaib kecuali Dia. Allah ta’ala berfirman yang artinya:
“Katakanlah: Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah.” (Qs. An Naml:65).
Dalam ayat lain, Allah menegaskanbahwatidak ada seorangpun yang dapat mengetahui apa yang akan terjadibesok, sebagaimana firmanNya yang artinya,
“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana Dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Qs. Luqman: 34).
“Siapa yang mempelajari ilmu nujum berarti ia telah mempelajari cabang dari ilmu sihir, apabila bertambah ilmunujumnya maka bertambah pulalah ilmu sihirnya.” (HR Ahmad dengan sanad hasan).
Hadits ini dengan jelas dan tegas menyatakan bahwa ilmu nujum (yang termasuk dalam hal ini adalah ramalan bintang) merupakan bagian dari sihir. Bahkan Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam menyatakan bahwa apabila ilmu nujum-nya itu bertambah, maka hal ini berarti bertambah pula ilmu sihir yang dipelajari orang tersebut. Sedangkan hukum sihir itu sendiriadalah haram dan termasuk kekafiran, sebagaimana Allah berfirman yang artinya:
“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan- syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan-lah yang kafir (mengerjakan sihir).” (Qs. Al Baqarah: 102)
Seseorang yang mempercayai ramalan bintang, secara langsungmaupun tidak langsung menyatakan bahwa ada zat selainAllah ta’ala yang mengetahuiperkara gaib. Padahal Allah ta’ala telah menegaskan dalam Al-Qur’an bahwa tidak ada yang mengetahui perkara yang gaib kecuali Dia. Allah ta’ala berfirman yang artinya:
“Katakanlah: Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah.” (Qs. An Naml:65).
Dalam ayat lain, Allah menegaskanbahwatidak ada seorangpun yang dapat mengetahui apa yang akan terjadibesok, sebagaimana firmanNya yang artinya,
“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana Dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Qs. Luqman: 34).
Sekian dulu artikel "HUKUM ZODIAK DALAM ISLAM", semoga bermanfaat ...
Sumber artikel : Ustd.Felix siauw
Minggu, 02 Maret 2014
7 Rahasia dibalik Surah Al-Kautsar
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيم
Dan lebih wangi dari kasturi .Surah ini di sifatkan sebagai Surah penghibur Nabi Muhammad SAW , karena diturunkan ketika Baginda bersedih atas kematian 2 orang yang dikasihinya , yaitu anak lelakinya Ibrahim dan Bapak saudaranya Abu Thalib .
Berbagai Khasiat terkandung di dalam surah ini dan boleh kita amalkan .
Diantaranya ialah :
1.ketika hujan bacalah surah ini dan berdoa , Insha Allah doa kita dikabulkan oleh Allah SWT.
2.Ketika kita kehausan , dan tiada air bacalah surah ini dan gosok dileher . Insha Allah hilang lah rasa dahaga.
3.Ketika kita sering sakit mata , seperti berair , gatal , bengkak , sapukan air tawar yang sudah dibacakan suarah ini sebanyak 10x pada mata .
4.Ketika rumah dipercayai terkena sihir , bacalah surah ini 10x . Insha Allah , Allah SWT memberi ilham kepada kita dimana letaknya sihir itu .
5.Jika kita membaca surah ini 1000x insha Allah rezeki kita akan bertambah .
6.Jika kita rajin memebaca surah ini , Insha Allah hati kita akan menjadi lembut dan khusyuk ketika menunaikan solat .
7.Jika ada orang teraniaya dan terpenjara bacalah surah ini sebanyak 71x , insha Allah , Allah SWT akan memberi bantuan kepadanya karena dia tidak bersalah tetapi di dzalimi .
Rasulullah SAW bersabda " Barangsiapa yang menyampaikan 1 ilmu saja dan ada orang yang mengamalkan nya maka walaupun yang menyampaikan sudah tiada , ia akan tetap memperoleh pahala "
{H.R.Bukhari}
Sumber Artikel facebook : Mozaik Islam
JAUHILAH SIKAP SOMBONG
Salah satu tujuan diutusnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah untuk memperbaiki akhlak manusia. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Islam adalah agama yang mengajarkan akhlak yang luhur dan mulia. Oleh karena itu, banyak dalil al Quran dan as Sunnah yang memerintahkan kita untuk memiliki akhlak yang mulia dan menjauhi akhlak yang tercela. Demikian pula banyak dalil yang menunjukkan pujian bagi pemilik akhlak baik dan celaan bagi pemilik akhlak yang buruk. Salah satu akhlak buruk yang harus dihindari oleh setiap muslim adalah sikap sombong.
Sikap sombong adalah memandang dirinya berada di atas kebenaran dan merasa lebih di atas orang lain. Orang yang sombong merasa dirinya sempurna dan memandang dirinya berada di atas orang lain. (Bahjatun Nadzirin, I/664, Syaikh Salim al Hilali, cet. Daar Ibnu Jauzi)
Islam Melarang dan Mencela Sikap Sombong
Allah Ta’ala berfirman,
Allah Ta’ala berfirman,
Haritsah bin Wahb Al Khuzai’i berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Dosa Pertama Iblis
Sebagian salaf menjelaskan bahwa dosa pertama kali yang muncul kepada Allah adalah kesombongan. Allah Ta’ala berfirman,
Qotadah berkata tentang ayat ini, “Iblis hasad kepada Adam ‘alaihis salaam dengan kemuliaan yang Allah berikan kepada Adam. Iblis mengatakan, “Saya diciptakan dari api sementara Adam diciptakan dari tanah”. Kesombongan inilah dosa yang pertama kali terjadi . Iblis sombong dengan tidak mau sujud kepada Adam” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/114, cet al Maktabah at Tauqifiyah)
Hakekat Kesombongan
Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
An Nawawi rahimahullah berkata, “Hadist ini berisi larangan dari sifat sombong yaitu menyombongkan diri kepada manusia, merendahkan mereka, serta menolak kebenaran” (Syarah Shahih Muslim Imam Nawawi, II/163, cet. Daar Ibnu Haitsam)
Kesombongan ada dua macam, yaitu sombong terhadap al haq dan sombong terhadap makhluk. Hal ini diterangkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hadist di atas dalam sabda beliau, “sombong adalah menolak kebenaran dan suka meremehkan orang lain”. Menolak kebenaran adalah dengan menolak dan berpaling darinya serta tidak mau menerimanya. Sedangkan meremehkan manusia yakni merendahkan dan meremehkan orang lain, memandang orang lain tidak ada apa-apanya dan melihat dirinya lebih dibandingkan orang lain. (Syarh Riyadus Shaalihin, II/301, Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin, cet Daar Ibnu Haitsam)
Sombong Terhadap al Haq (Kebenaran)
Sombong terhadap al haq adalah sombong terhadap kebenaran, yakni dengan tidak menerimanya. Setiap orang yang menolak kebenaran maka dia telah sombong disebabkan penolakannya tersebut. Oleh karena itu wajib bagi setiap hamba untuk menerima kebenaran yang ada dalam Kitabullah dan ajaran para rasul ‘alaihimus salaam.
Orang yang sombong terhadap ajaran rasul secara keseluruhan maka dia telah kafir dan akan kekal di neraka. Ketika datang kebenaran yang dibawa oleh rasul dan dikuatkan dengan ayat dan burhan, dia bersikap sombong dan hatinya menentang sehingga dia menolak kebenaran tersebut. Hal ini seperti yang Allah terangkan dalam firman-Nya,
Adapun orang yang sombong dengan menolak sebagian al haq yang tidak sesuai dengan hawa nafsu dan akalnya –tidak termasuk kekafiran- maka dia berhak mendapat hukuman (adzab) karena sifat sombongnya tersebut.
Maka wajib bagi para penuntut ilmu untuk memiliki tekad yang kuat mendahulukan perkataan Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam di atas perkataan siapa pun. Karena pokok kebenaran adalah kembali kepadanya dan pondasi kebenaran dibangun di atasnya, yakni dengan petunjuk Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Kita berusaha untuk mengetahui maksudnya, dan mengikutinya secara lahir dan batin. (Lihat Bahjatu Qulubil Abrar, hal 194-195, Syaikh Nashir as Sa’di, cet Daarul Kutub ‘Ilmiyah)
Sikap seorang muslim terhadap setiap kebenaran adalah menerimanya secara penuh sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla,
Sombong Terhadap Makhluk
Bentuk kesombongan yang kedua adalah sombong terhadap makhluk, yakni dengan meremehkan dan merendahkannya. Hal ini muncul karena seseorang bangga dengan dirinya sendiri dan menganggap dirinya lebih mulia dari orang lain. Kebanggaaan terhadap diri sendiri membawanya sombong terhadap orang lain, meremehkan dan menghina mereka, serta merendahkan mereka baik dengan perbuatan maupun perkataan. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Di antara bentuk kesombongan terhadap manusia di antaranya adalah sombong dengan pangkat dan kedudukannya, sombong dengan harta, sombong dengan kekuatan dan kesehatan, sombong dengan ilmu dan kecerdasan, sombong dengan bentuk tubuh, dan kelebihan-kelebihan lainnya. Dia merasa lebih dibandingkan orang lain dengan kelebihan-kelebihan tersebut. Padahal kalau kita renungkan, siapa yang memberikan harta, kecerdasan, pangkat, kesehatan, bentuk tubuh yang indah? Semua murni hanyalah nikmat dari Allah Ta’ala. Jika Allah berkehendak, sangat mudah bagi Allah untuk mencabut kelebihan-kelebihan tersebut. Pada hakekatnya manusia tidak memiliki apa-apa, lantas mengapa dia harus sombong terhadap orang lain? Wallahul musta’an.
Hukuman Pelaku Sombong di Dunia
Dalam sebuah hadist yang shahih dikisahkan sebagai berikut ,
Orang tersebut mendapat hukum di dunia disebabkan perbuatannya menolak perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia dihukum karena kesombongannya. Akhirnya dia tidak bisa mengangkat tangan kanannya disebabkan sikap sombongnya terhadap perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah di antara bentuk hukuman di dunia bagi orang yang sombong.
Mengganti Sikap Sombong dengan Tawadhu’
Kebalikan dari sikap sombong adalah sikap tawadhu’ (rendah hati). Sikap inilah yang merupakan sikap terpuji, yang merupakan salah satu sifat ‘ibaadur Rahman yang Allah terangkan dalam firman-Nya,
Diriwayatkan dari Iyadh bin Himar radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Sikap tawadhu’ inilah yang akan mengangkat derajat seorang hamba, sebagaimana Allah berfirman,
Termasuk buah dari lmu yang paling agung adalah sikap tawadhu’. Tawadhu’ adalah ketundukan secara total terhadap kebenaran, dan tunduk terhadap perintah Allah dan rasul-Nya dengan melaksanakan perintah dan menjauhi larangan disertai sikap tawdahu’ terhadap manusia dengan bersikap merenadahkan hati, memperhatikan mereka baik yang tua maupun muda, dan memuliakan mereka. Kebalikannya adalah sikap sombong yaitu menolak kebenaran dan rendahkan manusia. (Bahjatu Qulubil Abrar, hal 110)
Tidak Termasuk Kesombongan
Tatkala Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan bahwa orang yang memiliki sikap sombong tidak akan masuk surga, ada sahabat yang bertanya tentang orang yang suka memakai pakaian dan sandal yang bagus. Dia khawatir hal itu termasuk kesombongan yang diancam dalam hadits. Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan bahwasanya hal itu tidak termasuk kesombongan selama orang tersebut tunduk kepada kebenaran dan bersikap tawadhu’ kepada manusia. Bahkan hal itu termasuk bentuk keindahan yang dicintai oleh Allah, karena sesungguhnya Allah Maha Indah dalam dzat-Nya, nama-nama dan sifat-sifat-Nya, serta perbuatan-Nya. Allah mencintai keindahan lahir dan batin.( Bahjatu Qulubil Abrar , hal 195)
Kesombongan yang Paling Buruk
Al Imam Adz Dzahabi rahimahullah berkata, “Kesombongan yang paling buruk adalah orang yang menyombongkan diri di hadapan manusia dengan ilmunya, merasa dirinya besar dengan kemuliaan yang dia miliki. Bagi orang tersebut tidak bermanfaat ilmunya untuk dirinya. Barangsiapa yang menuntut ilmu demi akhirat maka ilmunya itu akan menimbulkan hati yang khusyuk serta jiwa yang tenang. Dia akan terus mengawasi dirinya dan tidak bosan untuk terus memperhatikannya, bahkan setiap saat dia selalu introspeksi dan meluruskannya. Apabila dia lalai dari hal itu, dia akan menyimpang dari jalan yang lurus dan akan binasa. Barangsiapa yang menuntut ilmu untuk membanggakan diri dan meraih kedudukan, memandang remeh kaum muslimin yang lainnya serta membodoh-bodohi dan merendahkan mereka, maka hal ini merupakan kesombongan yang paling besar. Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun hanya sebesar dzarrah (biji sawi). Laa haula wa laa quwwata illaa billah.” (Al Kabaa’ir ma’a Syarh li Ibni al ‘Utsaimin hal. 75-76, cet. Daarul Kutub ‘Ilmiyah.)
Pembaca yang dirahmati oleh Allah, semoga Allah Ta’ala menjauhkan kita dari sikap sombong. Hanya kepada Allah lah kita memohon. Wa shalallahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad.
Sumber artikel : www.muslim.or.id
Penulis: Abu ‘Athifah Adika Mianoki
Muroja’ah: M. A. Tuasikal
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq yang baik.” (HR. Ahmad 2/381. Syaikh Syu’aib Al Arnauth menyatakan bahwa hadits ini shahih)Islam adalah agama yang mengajarkan akhlak yang luhur dan mulia. Oleh karena itu, banyak dalil al Quran dan as Sunnah yang memerintahkan kita untuk memiliki akhlak yang mulia dan menjauhi akhlak yang tercela. Demikian pula banyak dalil yang menunjukkan pujian bagi pemilik akhlak baik dan celaan bagi pemilik akhlak yang buruk. Salah satu akhlak buruk yang harus dihindari oleh setiap muslim adalah sikap sombong.
Sikap sombong adalah memandang dirinya berada di atas kebenaran dan merasa lebih di atas orang lain. Orang yang sombong merasa dirinya sempurna dan memandang dirinya berada di atas orang lain. (Bahjatun Nadzirin, I/664, Syaikh Salim al Hilali, cet. Daar Ibnu Jauzi)
Islam Melarang dan Mencela Sikap Sombong
Allah Ta’ala berfirman,
وَلاَ تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلاَ تَمْشِ فِي اللأَرْضِ مَرَحاً إِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَجُوْرٍ {18}
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong)
dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya
Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman:18)Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْتَكْبِرِينَ
“Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang menyombongkan diri.” (QS. An Nahl: 23)Haritsah bin Wahb Al Khuzai’i berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ النَّارِ قَالُوا بَلَى قَالَ كُلُّ عُتُلٍّ جَوَّاظٍ مُسْتَكْبِرٍ
“Maukah kamu aku beritahu tentang penduduk neraka? Mereka semua adalah orang-orang keras lagi kasar, tamak lagi rakus, dan takabbur(sombong).“ (HR. Bukhari no. 4918 dan Muslim no. 2853).Dosa Pertama Iblis
Sebagian salaf menjelaskan bahwa dosa pertama kali yang muncul kepada Allah adalah kesombongan. Allah Ta’ala berfirman,
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلاَئِكَةِ اسْجُدُوا لأَدَمَ فَسَجَدُوا إِلاَّ إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الكَافِرِينَ {34}
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kalian kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur (sombong) dan ia termasuk golongan orang-orang yang kafir“ (QS. Al Baqarah:34)Qotadah berkata tentang ayat ini, “Iblis hasad kepada Adam ‘alaihis salaam dengan kemuliaan yang Allah berikan kepada Adam. Iblis mengatakan, “Saya diciptakan dari api sementara Adam diciptakan dari tanah”. Kesombongan inilah dosa yang pertama kali terjadi . Iblis sombong dengan tidak mau sujud kepada Adam” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/114, cet al Maktabah at Tauqifiyah)
Hakekat Kesombongan
Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ
كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ
الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً
قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ
وَغَمْطُ النَّاسِ
“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.“ (HR. Muslim no. 91)An Nawawi rahimahullah berkata, “Hadist ini berisi larangan dari sifat sombong yaitu menyombongkan diri kepada manusia, merendahkan mereka, serta menolak kebenaran” (Syarah Shahih Muslim Imam Nawawi, II/163, cet. Daar Ibnu Haitsam)
Kesombongan ada dua macam, yaitu sombong terhadap al haq dan sombong terhadap makhluk. Hal ini diterangkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hadist di atas dalam sabda beliau, “sombong adalah menolak kebenaran dan suka meremehkan orang lain”. Menolak kebenaran adalah dengan menolak dan berpaling darinya serta tidak mau menerimanya. Sedangkan meremehkan manusia yakni merendahkan dan meremehkan orang lain, memandang orang lain tidak ada apa-apanya dan melihat dirinya lebih dibandingkan orang lain. (Syarh Riyadus Shaalihin, II/301, Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin, cet Daar Ibnu Haitsam)
Sombong Terhadap al Haq (Kebenaran)
Sombong terhadap al haq adalah sombong terhadap kebenaran, yakni dengan tidak menerimanya. Setiap orang yang menolak kebenaran maka dia telah sombong disebabkan penolakannya tersebut. Oleh karena itu wajib bagi setiap hamba untuk menerima kebenaran yang ada dalam Kitabullah dan ajaran para rasul ‘alaihimus salaam.
Orang yang sombong terhadap ajaran rasul secara keseluruhan maka dia telah kafir dan akan kekal di neraka. Ketika datang kebenaran yang dibawa oleh rasul dan dikuatkan dengan ayat dan burhan, dia bersikap sombong dan hatinya menentang sehingga dia menolak kebenaran tersebut. Hal ini seperti yang Allah terangkan dalam firman-Nya,
إِنَّ الَّذِينَ يُجَادِلُونَ
فِي ءَايَاتِ اللهِ بِغَيْرِ سًلْطَانٍ أَتَاهُمْ إِن فِي صُدُورِهِمْ
إِلاَّ كِبْرٌ مَّاهُم بِبَالِغِيهِ فَاسْتَعِذْ بِاللهِ إِنَّهُ هُوَ
السَّمِيعُ الْبَصِيرُ {56}
“Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan
tentang ayat-ayat Allah tanpa lasan yang sampai pada mereka tidak ada
dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan akan) kesombongan yang
mereka sekali-klai tiada akan mencapainya, maka mintalah perlindungan
kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mnedengar lagi Maha Melihat” (QS. Ghafir:56)Adapun orang yang sombong dengan menolak sebagian al haq yang tidak sesuai dengan hawa nafsu dan akalnya –tidak termasuk kekafiran- maka dia berhak mendapat hukuman (adzab) karena sifat sombongnya tersebut.
Maka wajib bagi para penuntut ilmu untuk memiliki tekad yang kuat mendahulukan perkataan Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam di atas perkataan siapa pun. Karena pokok kebenaran adalah kembali kepadanya dan pondasi kebenaran dibangun di atasnya, yakni dengan petunjuk Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Kita berusaha untuk mengetahui maksudnya, dan mengikutinya secara lahir dan batin. (Lihat Bahjatu Qulubil Abrar, hal 194-195, Syaikh Nashir as Sa’di, cet Daarul Kutub ‘Ilmiyah)
Sikap seorang muslim terhadap setiap kebenaran adalah menerimanya secara penuh sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla,
وَمَاكَانَ لِمُؤْمِنٍ
وَلاَمُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللهُ وَرَسُولَهُ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ
الْخِيَرَةَ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَن يَعْصِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ
ضَلاَلاً مُّبِينًا {36}
“Dan tidaklah patut bagi mukmin laki-laki dan mukmin perempuan,
apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada
bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.” (QS. Al-Ahzab: 36)
فَلاَ وَرَبِّكَ لاَيُؤْمِنُونَ
حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُواْ فِي
أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا {65}
“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga
mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka
perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu
keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan
sepenuhnya” (QS. An Nisaa’: 65)Sombong Terhadap Makhluk
Bentuk kesombongan yang kedua adalah sombong terhadap makhluk, yakni dengan meremehkan dan merendahkannya. Hal ini muncul karena seseorang bangga dengan dirinya sendiri dan menganggap dirinya lebih mulia dari orang lain. Kebanggaaan terhadap diri sendiri membawanya sombong terhadap orang lain, meremehkan dan menghina mereka, serta merendahkan mereka baik dengan perbuatan maupun perkataan. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ
“Cukuplah seseorang dikatakan berbuat jahat jika ia menghina saudaranya sesama muslim” (H.R. Muslim 2564). (Bahjatu Qulubill Abrar, hal 195)Di antara bentuk kesombongan terhadap manusia di antaranya adalah sombong dengan pangkat dan kedudukannya, sombong dengan harta, sombong dengan kekuatan dan kesehatan, sombong dengan ilmu dan kecerdasan, sombong dengan bentuk tubuh, dan kelebihan-kelebihan lainnya. Dia merasa lebih dibandingkan orang lain dengan kelebihan-kelebihan tersebut. Padahal kalau kita renungkan, siapa yang memberikan harta, kecerdasan, pangkat, kesehatan, bentuk tubuh yang indah? Semua murni hanyalah nikmat dari Allah Ta’ala. Jika Allah berkehendak, sangat mudah bagi Allah untuk mencabut kelebihan-kelebihan tersebut. Pada hakekatnya manusia tidak memiliki apa-apa, lantas mengapa dia harus sombong terhadap orang lain? Wallahul musta’an.
Hukuman Pelaku Sombong di Dunia
Dalam sebuah hadist yang shahih dikisahkan sebagai berikut ,
أَنَّ رَجُلاً أَكَلَ عِنْدَ
رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِشِمَالِهِ فَقَالَ « كُلْ
بِيَمِينِكَ ». قَالَ لاَ أَسْتَطِيعُ قَالَ « لاَ اسْتَطَعْتَ ». مَا
مَنَعَهُ إِلاَّ الْكِبْرُ. قَالَ فَمَا رَفَعَهَا إِلَى فِيهِ.
“Ada seorang laki-laki makan di samping Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tangan kirinya. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Makanlah dengan tangan kananmu!” Orang tersebut malah menjawab, “Aku tidak bisa.” Beliau bersabda, “Apakah kamu tidak bisa?” -dia menolaknya karena sombong-. Setelah itu tangannya tidak bisa sampai ke mulutnya” (H.R. Muslim no. 3766).Orang tersebut mendapat hukum di dunia disebabkan perbuatannya menolak perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia dihukum karena kesombongannya. Akhirnya dia tidak bisa mengangkat tangan kanannya disebabkan sikap sombongnya terhadap perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah di antara bentuk hukuman di dunia bagi orang yang sombong.
Mengganti Sikap Sombong dengan Tawadhu’
Kebalikan dari sikap sombong adalah sikap tawadhu’ (rendah hati). Sikap inilah yang merupakan sikap terpuji, yang merupakan salah satu sifat ‘ibaadur Rahman yang Allah terangkan dalam firman-Nya,
وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا
“Hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih adalah orang-orang yang berjalan di atas muka bumi dengan rendah hati (tawadhu’) dan apabila orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.” (QS. Al Furqaan: 63)Diriwayatkan dari Iyadh bin Himar radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,
وَإِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلَا يَبْغِ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ
‘Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian bersikap rendah hati hingga tidak seorang pun yang bangga atas yang lain dan tidak ada yang berbuat aniaya terhadap yang lain” (HR Muslim no. 2865).Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ
مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ
أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ.
“Sedekah itu tidak akan mengurangi harta. Tidak ada orang yang
memberi maaf kepada orang lain, melainkan Allah akan menambah kemuliaan untuknya. Dan tidak ada orang yang tawadhu’ (merendahkan diri) karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim no. 2588)Sikap tawadhu’ inilah yang akan mengangkat derajat seorang hamba, sebagaimana Allah berfirman,
دَرَجَاتٍ الْعِلْمَ أُوتُوا وَالَّذِينَ مِنكُمْ آمَنُوا الَّذِينَ اللَّهُ يَرْفَعِ
“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat “ (QS. Al Mujadilah: 11).Termasuk buah dari lmu yang paling agung adalah sikap tawadhu’. Tawadhu’ adalah ketundukan secara total terhadap kebenaran, dan tunduk terhadap perintah Allah dan rasul-Nya dengan melaksanakan perintah dan menjauhi larangan disertai sikap tawdahu’ terhadap manusia dengan bersikap merenadahkan hati, memperhatikan mereka baik yang tua maupun muda, dan memuliakan mereka. Kebalikannya adalah sikap sombong yaitu menolak kebenaran dan rendahkan manusia. (Bahjatu Qulubil Abrar, hal 110)
Tidak Termasuk Kesombongan
Tatkala Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan bahwa orang yang memiliki sikap sombong tidak akan masuk surga, ada sahabat yang bertanya tentang orang yang suka memakai pakaian dan sandal yang bagus. Dia khawatir hal itu termasuk kesombongan yang diancam dalam hadits. Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan bahwasanya hal itu tidak termasuk kesombongan selama orang tersebut tunduk kepada kebenaran dan bersikap tawadhu’ kepada manusia. Bahkan hal itu termasuk bentuk keindahan yang dicintai oleh Allah, karena sesungguhnya Allah Maha Indah dalam dzat-Nya, nama-nama dan sifat-sifat-Nya, serta perbuatan-Nya. Allah mencintai keindahan lahir dan batin.( Bahjatu Qulubil Abrar , hal 195)
Kesombongan yang Paling Buruk
Al Imam Adz Dzahabi rahimahullah berkata, “Kesombongan yang paling buruk adalah orang yang menyombongkan diri di hadapan manusia dengan ilmunya, merasa dirinya besar dengan kemuliaan yang dia miliki. Bagi orang tersebut tidak bermanfaat ilmunya untuk dirinya. Barangsiapa yang menuntut ilmu demi akhirat maka ilmunya itu akan menimbulkan hati yang khusyuk serta jiwa yang tenang. Dia akan terus mengawasi dirinya dan tidak bosan untuk terus memperhatikannya, bahkan setiap saat dia selalu introspeksi dan meluruskannya. Apabila dia lalai dari hal itu, dia akan menyimpang dari jalan yang lurus dan akan binasa. Barangsiapa yang menuntut ilmu untuk membanggakan diri dan meraih kedudukan, memandang remeh kaum muslimin yang lainnya serta membodoh-bodohi dan merendahkan mereka, maka hal ini merupakan kesombongan yang paling besar. Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun hanya sebesar dzarrah (biji sawi). Laa haula wa laa quwwata illaa billah.” (Al Kabaa’ir ma’a Syarh li Ibni al ‘Utsaimin hal. 75-76, cet. Daarul Kutub ‘Ilmiyah.)
Pembaca yang dirahmati oleh Allah, semoga Allah Ta’ala menjauhkan kita dari sikap sombong. Hanya kepada Allah lah kita memohon. Wa shalallahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad.
Sumber artikel : www.muslim.or.id
Penulis: Abu ‘Athifah Adika Mianoki
Muroja’ah: M. A. Tuasikal
NIAT
1. Kebodohan
Kebodohan adalah musibah yang besar menimpa kehidupan manusia, dan menjadikannya terjerumus ke dalam berbagai macam penyimpangan dan kesesatan, seorang penya’ir berkata[1],Kebodohan sebelum maut adalah kematian untuk pemiliknya , Dan badan mereka menjadi kuburan sebelum dikuburkan . Roh mereka tidak tenang di dalam jasad mereka , Tidak ada tempat kembali walaupun hari nusyur.
Berilmu tentang hukum suatu ibadah adalah syarat sah niat sehingga ketika seorang hamba beribadah ia dapat menentukan (ta’yin) niatnya dengan benar, maka bila ia tidak mengetahui hukum sebuah ibadah; wajibkah atau sunahkah, tentu ia tidak dapat menta’yinnya dengan benar terlebih jika ibadah tersebut disyaratkan padanya menta’yin niat sebagaimana telah kita jelaskan di bab yang pertama.
Oleh karena itu kewajiban setiap hamba adalah mempelajari hukum-hukum ibadah yang hendak ia laksanakan, agar ia dapat beribadah kepada Allah dengan benar dan sesuai dengan apa yang disyari’atkan oleh Allah melalui lisan Rosul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam. Ilmu adalah obat penawar penyakit bodoh, maka menuntut ilmu adalah kewajiban bagi orang yang terkena penyakit seperti itu.
2. Waswas Setan
Setan berusaha mengggoda anak Adam dan menjerumuskannya kepada jurang Hawiyah, dengan berbagai macam cara ia menggoda manusia di antaranya adalah dengan waswas. Ibnu Qayim rahimahullah berkata: “Tempat niat adalah hati dan tidak hubungan dengan lisan sama sekali, oleh karena itu tidak pernah dinukil dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pula dari para shahabat melafadzkan niat tidak pula kita mendengar mereka menyebutkanya. Bacaan-bacaan yang diada-adakan sebelum bersuci dan shalat ini menjadi makanan empuk setan untuk menggoda ahli waswas, setan menahan mereka dan menyiksanya sehingga engkau lihat salah seorang dari mereka mengulang-ulang niat dan menyusahkan dirinya untuk melafadzkannya, padahal ia bukan bagian dari shalat sama sekali.”[2]Syaikhul Islam rahimahullah berkata: “Diantara mereka ada yang melakukan sepuluh bid’ah yang tidak pernah dilakukan oleh Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak juga seorangpun dari shahabat, yaitu mengucapkan: “Audzubillahi minasyaithanirrajim nawaitu ushalli shalatadzuhri faridlotalwaqti adaan lillahi Ta’ala imaman au ma’muman arba’a raka’at mustaqbilal qiblah.” Yang artinya: “Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk, aku berniat melakukan shalat dzuhur kewajiban waktu itu karena Allah Ta’ala sebagai imam atau makmum 4 raka’at dengan menghadap kiblat.” Lalu ia menguatkan anggota tubuhnya, mengkerutkan dahinya, dan menegangkan urat lehernya, kemudian berteriak bertakbir seakan-akan meneriaki musuh. Padahal bila ia memeriksa sepanjang umur Nabi Nuh ‘Alaihissalam apakah perbuatan tersebut pernah dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam atau seorang saja dari shahabat tentu ia tidak akan mendapatkannya kecuali jika ia mau berani berdusta. Kalaulah hal itu baik tentu mereka telah mendahului dan menunjukkan kita kepadanya.”[3]
Untuk menyingkap talbis iblis ini kita katakan kepada orang yang terkena waswas tersebut: “Jika engkau ingin menghadirkan niat maka niat itu sebenarnya telah hadir karena engkau telah berdiri untuk melaksanakan kewajiban dan itu adalah niat sedangkan niat tempatnya di hati bukan lafadz[4], maka orang yang duduk untuk berwudlu berarti ia telah berniat wudlu, orang yang berdiri untuk shalat berarti ia telah berniat shalat, dan orang yang berakal akan berfikir bahwa semua perbuatan ibadah tidak mungkin dilakukan dengan tanpa niat, karena niat itu selalu menyertai perbuatan manusia yang bersifat ikhtiyari (dibawah kehendak manusia) tidak perlu bersusah payah untuk menghasilkannya, bahkan bila ia ingin mengosongkan perbuatannya yang bersifat ikhtiyari tentu ia tidak akan mampu, kalaulah Allah memberi beban untuk berwudlu tanpa niat tentu ia adalah beban yang tak akan ada orang yang mampu melakukannya, maka jika keadaannya demikian lalu mengapa harus bersusah payah untuk menghasilkan niat ?! Dan jika ia merasa ragu apakah terhasilkan niatnya atau tidak maka ini adalah macam penyakit gila, karena pengetahuan manusia tentang dirinya adalah perkara yang bersifat yakin.[5]
Dihikayatkan dari ibnu ‘Aqil bahwa ada seseorang bertemu dengannya dan bertanya: “Aku mencuci anggota tubuhku namun aku merasa belum mencucinya, dan aku bertakbir namun aku merasa belum bertakbir? Ibnu ‘Aqil rahimahullah menjawab: “Kalau begitu tinggalkan shalat karena tidak wajib bagimu.” Ada orang berkata: “Mengapa engkau mengatakan demikian? Beliau menjawab: “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Diangkat pena dari orang gila sampai ia waras.” Dan orang yang bertakbir namun ia merasa belum bertakbir bukanlah orang yang berakal, sedangkan orang gila tidak wajib sholat.”[6]
3. Penyakit Hati
Hati adalah segumpal darah yang menentukan anggota badan manusia, jika ia baik maka seluruh tubuhnya akan baik dan jika buruk maka anggota tubuh lainnya pun akan menjadi buruk. Buruknya hati akan menimbulkan keinginan-keinginan yang buruk dan keinginan yang buruk tersebut akan menimbulkan perbuatan yang tidak diridhai oleh Allah ‘Azza wa Jalla, di antara perkara yang dapat merusak niat adalah:Cinta Dunia
Manusia diciptakan oleh Allah dengan tabiat mencintai dunia, Allah Ta’ala berfirman,
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ
الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ
مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَاْلأَنْعَامِ
وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللهُ عِندَهُ حُسْنُ
الْمَئَابِ
“Dihiaskan kepada manusia cinta terhadap apa yang diinginkan
berupa wanita, anak-anak, harta benda yang bertumpuk berupa emas dan
perak, kuda pilihan, binatang ternak dan sawah ladang.” (QS. Ali Imran: 14)Cinta dunia yang berlebihan menjadikan manusia lupa akan tujuan hidupnya dengan timbulnya niat meraih kesenangan dunia dari amalan shalihnya, sehingga menjadikan amalannya tidak diterima oleh Allah Ta’ala dan di akhirat tidak mendapatkan apa-apa kecuali neraka.
مَن كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لاَيُبْخَسُونَ {15}
أُوْلَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي اْلأَخِرَةِ إِلاَّ النَّارَ
وَحَبِطَ مَاصَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَّاكَانُوا يَعْمَلُونَ {16}
“Barang siapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, pasti
Kami berikan balasan atas pekerjaan mereka di dunia, dan mereka di
dunia tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh
sesuatu di akhirat kecuali neraka, dan sia-sialah di sana apa yang telah
mereka usahakan dan terhapuslah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Huud: 15-16)Imam Qatadah rahimahullah berkata, “Barang siapa yang niat dan tujuannya hanya mencari dunia, Allah akan memberikan balasan kebaikannya di dunia saja, kemudian ia kembali ke akhirat dengan tanpa membawa pahala sedikit pun, adapun seorang mukmin (yang ikhlas) maka kebaikannya dibalas di dunia dan di akhirat.”[7]
Amalan manusia karena mengharap kehidupan dunia bervariasi di antaranya:
Pertama: amalan shalih yang dilakukan oleh banyak orang dengan mengharapkan keridhaan Allah berupa shadaqah, shalat, berbuat baik kepada manusia dan lain-lain, atau meninggalkan kezaliman dan kemaksiatan yang ia tinggalkan dengan ikhlas karena Allah, namun ia tidak menginginkan pahalanya di akhirat akan tetapi ia menginginkan agar Allah membalasnya dengan dijaga dan ditambah hartanya, dijaga keluarganya, dilanggengkan kenikmatannya, dan ia tidak mempunyai keinginan mencari balasan di surga atau lari dari api neraka, maka orang ini hanya diberikan balasan amalannya di dunia saja sedangkan di akhirat ia tidak mendapat apa-apa. Ini adalah seperti yang disebutkan oleh Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma.
Kedua: yang disebutkan oleh Imam Mujahid bin Jabr yaitu amalan shalih yang dicampuri dengan riya’ bukan mencari pahala akhirat, amalan seperti ini lebih berat dan menakutkan dari yang pertama.
Ketiga: amalan shalih yang tujuannya adalah meraih harta, seperti orang yang haji dengan tujuan berbisnis dan bukan karena Allah atau berhijrah karena ada dunia yang ingin ia capai, atau karena wanita yang ingin ia nikahi atau berjihad karena ingin mendapat ghanimah.
Keempat: amal shalih yang diniatkan padanya dua hal; karena Allah dan karena ingin meraih keinginan dunia, maka hukumnya untuk yang lebih kuat. [8]
Kewajiban seorang hamba adalah menyelamatkan dirinya dari tipu daya setan ini dengan memahami hakikat kehidupan dunia yang fana dan tidak kekal, kesenangannya adalah menipu dan kemewahannya tidak berharga di sisi Allah sedikit pun, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا تَزِنُ عِنْدَ اللهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ مَا أَعْطَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةً مِنْ مَاءٍ.
“Kalaulah dunia itu berharga di sisi Allah seharga sayap nyamuk, Allah tidak akan memberi minum orang kafir setegukpun.” (HR. Ibnu Abi Syaibah)[9]Oleh karena itu, Allah mengingatkan kita tentang hakikat kehidupan dunia dalam ayat yang banyak agar manusia ingat bahwa dunia bukanlah tujuan kehidupan seorang hamba dan bukan sesuatu yang kekal, Allah Ta’ala berfirman,
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ
الدُّنْيَا لَعِب وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ
فِي اْلأَمْوَالِ وَاْلأَوْلاَدِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ
نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا
وَفِي اْلأَخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللهِ وَرِضْوَانٌ
وَمَاالْحَيَاةُ الدُّنْيَآ إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan dan saling berbangga di antara
kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan
yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu
menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan
di akhirat ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta
keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang
menipu.” (QS. Al Hadid: 20)Cinta Pujian dan Ketenaran
Yang paling ditakutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap umatnya adalah penyakit riya’ beliau bersabda,
إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ
عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا
الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ قَالَ الرِّيَاءُ إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ
وَتَعَالَى يَقُولُ يَوْمَ تُجَازَى الْعِبَادُ بِأَعْمَالِهِمْ اذْهَبُوا
إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاءُونَ بِأَعْمَالِكُمْ فِي الدُّنْيَا
فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً
“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan kepada kalian adalah
syirik kecil.” Mereka berkata, “Apa itu syirik kecil wahai Rasulullah?”
Beliau bersabda, “Riya, Allah akan berfirman kepada mereka pada hari
manusia dibalas amalan mereka, “Pergilah kepada orang yang kalian
harapkan pujian di dunia dan lihatlah apakah kalian mendapatkan pahala
dari mereka!!” (HR. Ahmad)[10]Penyakit ini sangat merusak niat seorang hamba dan menjadikannya terombang-ambing di lautan yang tak bertepi, ia telah memposisikan dirinya sebagai orang yang pertama kali dilemparkan ke dalam api neraka, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى
يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ فَأُتِيَ بِهِ
فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ
قَاتَلْتُ فِيكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ
قَاتَلْتَ لِأَنْ يُقَالَ جَرِيءٌ فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ
عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ
الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ
نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ تَعَلَّمْتُ
الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ قَالَ كَذَبْتَ
وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ عَالِمٌ وَقَرَأْتَ
الْقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِئٌ فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ
فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ وَرَجُلٌ وَسَّعَ
اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ فَأُتِيَ
بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ
مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيهَا إِلَّا أَنْفَقْتُ
فِيهَا لَكَ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هُوَ جَوَادٌ
فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ ثُمَّ أُلْقِيَ
فِي النَّارِ
“Sesungguhnya orang yang pertama kali diadzab pada hari kiamat
adalah orang yang mati syahid, lalu ia didatangkan menghadap Allah.
Allah menyebutkan nikmat-Nya kepadanya dan ia pun mengakuinya. Allah
berfirman, “Apa yang engkau amalkan dengannya?” Ia menjawab, “Aku
berperang di jalan-Mu sampai aku mati syahid.” Allah berfirman, “Kamu
dusta, akan tetapi kamu berperang agar disebut pemberani dan telah
dikatakan padamu.” Lalu orang itu diperintahkan agar diseret dengan
wajahnya sampai dilemparkan ke dalam api neraka. Dan orang yang
mempelajari ilmu dan mengajarkannya serta membaca Alquran, ia
didatangkan menghadap Allah. Allah menyebutkan nikmat-Nya kepadanya dan
ia pun mengakuinya. Allah berfirman, “Apa yang engkau amalkan
dengannya?” Ia menjawab, “Aku mempelajari ilmu dan membaca Alquran
karena Engkau.” Allah berfirman, “Kamu dusta, akan tetapi kamu
mempelajari ilmu agar disebut ulama dan membaca Alquran agar disebut
qori dan telah dikatakan demikian kepadamu.” Lalu orang itu
diperintahkan agar diseret dengan wajahnya sampai dilemparkan ke dalam
api neraka. Dan orang yang Allah luaskan rezekinya dan diberi segala
macam harta. Lalu ia didatangkan menghadap Allah. Allah menyebutkan
nikmat-Nya kepadanya dan ia pun mengakuiya. Allah berfirman, “Apa yang
engkau amalkan dengannya?” Ia menjawab, “Tidak ada satu pun jalan yang
Engkau sukai untuk diinfakkan padanya, kecuali aku telah menginfakkannya
karena Engkau.” Allah berfirman, “Kamu dusta, akan tetapi kamu berbuat
itu agar disebut dermawan dan telah dikatakan demikian kepadamu.” Lalu
orang itu diperintahkan agar diseret dengan wajahnya sampai dilemparkan
ke dalam api neraka.” (HR. Muslim)[11]Niat menjadi rusak dengan adanya riya, karena ia mengharapkan selain keridhaan Allah Ta’ala sehingga ia berhak mendapatkan sanksi dari Allah Ta’ala. Seorang hamba wajib bersungguh-sungguh untuk berjuang melawannya dengan memohon perlindungan kepada Allah dan bertawakal kepada-Nya dan menjihadi dirinya agar senantiasa ikhlas dalam beribadah.
Tamak kepada Harta dan Kedudukan
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa tamak kepada harta dan kedudukan lebih berbahaya dari pada dua ekor serigala lapar, beliau bersabda,
مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ
“Tidaklah dua serigala lapar dilepaskan kepada seekor kambing
lebih berbahaya dari rakusnya seseorang kepada harta dan kedudukan
melalui agamanya.” (HR. Tirmidzi)[12]Karena orang yang rakus kepada harta dan kedudukan seringkali menjadikan pelakunya melecehkan batasan-batasan Allah Ta’ala, tidak peduli apakah jalan yang ditempuhnya halal atau haram, bahkan ia pun berani memusuhi hamba-hamba Allah yang shalih bila ternyata menjadi aral untuknya dalam meraih dunia yang ia inginkan. Lebih-lebih rakus terhadap kedudukan, ia lebih berbahaya daripada rakus terhadap harta, karena pelakunya mendapatkan kelezatan lebih dari sekedar harta namun juga kehormatan dan ketundukan manusia kepadanya. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita untuk meminta jabatan, beliau bersabda,
لَا تَسْأَلْ الْإِمَارَةَ
فَإِنَّكَ إِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا وَإِنْ
أُعْطِيتَهَا عَنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا
“Janganlah engkau meminta jabatan, karena sesungguhnya jika
engkau diberikan jabatan karena memintanya, maka engkau tidak akan
dibantu namun diserahkan pada dirimu, dan jika engkau diberi jabatan
karena engkau tidak memintanya maka engkau akan dibantu (oleh Allah).” (HR. Bukhari dan Muslim)Dan yang lebih berat lagi adalah orang yang mencari kedudukan dunia melalui agamanya, dimana ia membela kepentingan dirinya di balik kedok agama, celakanya lagi ia berdalih dengan kaidah-kaidah syariat untuk membenarkan dirinya, sehingga agama menjadi permainan hawa nafsunya. Cobalah engkau lihat berapa banyak bid’ah dihalalkan untuk mencari suara lalu berdalih bahwa ini adalah keadaan darurat atau mashlahatnya besar atau seribu alasan lainnya, sunnah pun dilecehkan bahkan dianggapnya sebagai batu sandungan yang dapat menghalangi jalannya. Allahul musta’an.
Al Hafidz Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Telah menjadi jelas bahwa cinta harta dan kedudukan dan rakus kepada keduanya dapat merusak agama seseorang sehingga tidak tersisa darinya kecuali apa yang Allah kehendaki sebagaimana dikabarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan asal cinta harta dan kedudukan adalah cinta dunia, dan asal cinta dunia adalah mengikuti hawa nafsu. Wahb bin Munabbih rahimahullah berkata, “Dari mengikuti hawa nafsu timbullah cinta dunia, dan dari cinta dunia timbullah cinta harta dan kedudukan, dan dari cinta harta dan kedudukan timbullah menghalalkan apa-apa yang haram.”[13]
4. Fitnah Syubhat dan Syahwat
Syubhat dan syahwat adalah dua penyakit yang sangat merusak niat, adanya bid’ah dalam niat adalah akibat syubhat dan niat yang tidak ikhlas adalah akibat syahwat, dua macam fitnah ini dikumpulkan dalam sebuah ayat,
كَالَّذِينَ مِن
قَبْلِكُمْ كَانُوا أَشَدَّ مِنكُمْ قُوَّةً وَأَكْثَرَ أَمْوَالاً
وَأَوْلاَدًا فَاسْتَمْتَعُوا بِخَلاَقِهِمْ فَاسْتَمْتَعْتُم
بِخَلاَقِكُمْ كَمَا اسْتَمْتَعَ الَّذِينَ مِن قَبْلِكُم بِخَلاَقِهِمْ
وَخُضْتُمْ كَالَّذِي خَاضُوا أَوْلَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي
الدُّنْيَا وَاْلأَخِرَةِ وَأُوْلَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ
“(Keadaan orang munafik dan musyrikin) seperti orang-orang
sebelum kamu, mereka lebih kuat dari pada kamu dan lebih banyak harta
dan anak-anaknya. Maka mereka telah menikmati bagiannya dan kamu telah
menikmati bagianmu sebagaimana orang-orang sebelum kamu menikmati
bagiannya dan kamu tenggelam mempercakapkan (kepada hal-hal yang bathil)
sebagaimana mereka tenggelam mempercakapkannya.” (QS. At Taubah: 69)Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Dan kamu telah menikmati bagianmu, maksudnya kamu menikmati bagianmu dari dunia dan syahwatnya. Dan kamu tenggelam mempercakapkan, maksudnya tenggelam mempercakapkan kebatilan yaitu syubhat. Allah Ta’ala mengisyaratkan dalam ayat ini kepada apa yang dapat merusak hati dan agama berupa bersenang-senang dengan syahwat dan tenggelam dalam kebatilan, karena rusaknya agama dapat terjadi dengan adanya keyakinan yang batil atau beramal tidak sesuai dengan ilmu yang shahih.”[14]
Adapun obat syubhat adalah dengan mencari ilmu yang shahih dan memurnikan mutaba’ah terhadap Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berhukum dengannya dalam perkara besar maupun kecil dari urusan agama ini. Dan obat syahwat adalah dengan menumbuhkan rasa takut kepada Allah Ta’ala dan siksaan-Nya yang pedih serta memahami tentang hakikat kehidupan dunia ini sebagaimana telah kita sebutkan.
***
Sumber Artikel http://www.cintasunnah.com
Penulis: Ustadz Abu Yahya Badrusalam,
Langganan:
Komentar (Atom)